Menyapamu saja aku tak mampu, memegangmu mungkin tak sampai. Rindu yang dulu cerah mungkin sudah menjadi redup.
Terlalu banyak hal yang terjadi dalam kepalaku saat ini, kesedihan karna kita bisa bertengkar karena hal kecil.
Mengapa kita tak bisa saling memeluk dalam perbedaan? Saya lelah. Tak ingin lagi merasakan pahitnya beribu-ribu jarak. Seperti ingin mengadu pada semesta, mengapa ia memilih manusia bodoh yang saling mencintai harus terhalang jarak yang jauh. Aku ingin menangis. Sekeras-kerasnya hingga Tuhan dengar.
Saat aku mampu menggenggam tanganmu, mungkin tidak untuk saat ini. Saat aku mampu berada di sampingmu mungkin jauh untuk saat ini.
Hilang lelahku melihat senyummu. Untuk hati yang tengah berjuang, peluklah upayamu hingga garis penghabisan.
"We've been spent lot time together, right?"
"I've been thinking about this all day"
"Don't think to long, don't decide to soon"
"I'll serius now"
Terimakasih sudah hadir di hidup saya, semoga "kita" masih ada di hari esok dan seterusnya. Sebab "selamanya' tak pernah ada.
Sleman, 01 Maret 2016
Rabu, 18 Mei 2016
Selasa, 01 Maret 2016
Apa Aku sudah boleh rindu?
Saat mata tidak mampu melihat, mulut tak mampu bicara. Menunggu kembali dirindukan itu seperti apa wajah di masa depan. Rindu yang menggebu itu seperti hujan di pagi hari, tidak ada yang mengharapkan namun akan tetap datang.
Lantas, mana yang lebih dulu lahir, pagi atau rindu? Namun, aku tak pernah putus mendoakan kebahagiaan akan selalu memeluk setiap hati dan kepala. Demi kebaikan, demi ketenangan.
Bagaimana lagi kuisi hati, untuk menghilangkan rasa rindu ini? Hari demi hari kujalani dengan rasa rindu yang seakan hinggap di dada.
Aku tidak pernah menyangka;
Tuhan mengirim kau bersamaan dengan kecemasan dan kepulangan. Dengan waktu yang dipesan secara tiba-tiba, dan cinta yang tak kunjung pecah maupun tumpah.
Aku tidak pernah menyangka;
Tuhan mengizinkan aku sepenuh ini mencintaimu, juga sesering memanen rindu.
Semoga kelak semesta selalu mengiringi kita dengan sebongkah hasil panen rindu dan cinta
For u:)
Lantas, mana yang lebih dulu lahir, pagi atau rindu? Namun, aku tak pernah putus mendoakan kebahagiaan akan selalu memeluk setiap hati dan kepala. Demi kebaikan, demi ketenangan.
Bagaimana lagi kuisi hati, untuk menghilangkan rasa rindu ini? Hari demi hari kujalani dengan rasa rindu yang seakan hinggap di dada.
Aku tidak pernah menyangka;
Tuhan mengirim kau bersamaan dengan kecemasan dan kepulangan. Dengan waktu yang dipesan secara tiba-tiba, dan cinta yang tak kunjung pecah maupun tumpah.
Aku tidak pernah menyangka;
Tuhan mengizinkan aku sepenuh ini mencintaimu, juga sesering memanen rindu.
Semoga kelak semesta selalu mengiringi kita dengan sebongkah hasil panen rindu dan cinta
For u:)
Langganan:
Postingan (Atom)