Saat mata tidak mampu melihat, mulut tak mampu bicara. Menunggu kembali dirindukan itu seperti apa wajah di masa depan. Rindu yang menggebu itu seperti hujan di pagi hari, tidak ada yang mengharapkan namun akan tetap datang.
Lantas, mana yang lebih dulu lahir, pagi atau rindu? Namun, aku tak pernah putus mendoakan kebahagiaan akan selalu memeluk setiap hati dan kepala. Demi kebaikan, demi ketenangan.
Bagaimana lagi kuisi hati, untuk menghilangkan rasa rindu ini? Hari demi hari kujalani dengan rasa rindu yang seakan hinggap di dada.
Aku tidak pernah menyangka;
Tuhan mengirim kau bersamaan dengan kecemasan dan kepulangan. Dengan waktu yang dipesan secara tiba-tiba, dan cinta yang tak kunjung pecah maupun tumpah.
Aku tidak pernah menyangka;
Tuhan mengizinkan aku sepenuh ini mencintaimu, juga sesering memanen rindu.
Semoga kelak semesta selalu mengiringi kita dengan sebongkah hasil panen rindu dan cinta
For u:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar